Kultum: Indahnya Mudik

Kerinduan akan kampung halaman menjadikan seseorang  mabuk kepayang berusaha agar bisa berlebaran di kampung halaman. Alasannya sangat sederhana, bagi yang merantau jauh dengan kondisi ekonomi pas-pasan belum tentu  bisa pulang setiap bulan, bahkan bisa jadi sudah sekian tahun belum bisa pulang. Biasanya  moment lebaran inilah yang menjadi alasan untuk pulang kampung. Inilah yang disebut  mudik lebaran atau tradisi mudik, yang baik perlu dilestarikan dan buruk wajib ditinggalkan.

Fenomena religious-spritual ini  merupakan fenomena sosiokultural yang terjadi dimasyarakat yang memiliki  dimensi ekonomi yang  tinggi. Ritual mudik ini biasanya ditandai dengan mobilitas ratusan ribu bahkan jutaan orang  ke luar dari kota menuju kampung halaman masing-masing dengan memanfaatkan berbagai sarana transportasi, seperti pesawat, kapal laut, kereta api, mobil, dan motor bahkan ada juga yang menggunakan bajaj.  

Mudik adalah perjuangan berat, jarak tempuh ratusan kilometer, kondisi cuaca yang selalu berubah-ubah baik di siang hari mapun di malam hari dan kemacetan lalu lintas sepanjang perjalanan, sudah barang tentu akan berpengaruh pada ketahanan tubuh pemudik, terlebih dalam suasa puasa. Sudah siapkah anda dengan itu semua ? andalah yang tahu jawabannya.    

Lebaran,  digambarkan sebagai suatu puncak kegembiraan  umat Islam yang telah melampaui tempaan selama sebulan penuh, insya Allah akan mendapat gelar “al muttaqiin” (QS.2/183). Inilah hari kemenangan bagi orang yang beriman yang telah menjalankan puasa. Rasulullah saw menilai bagi mereka yang telah memerangi pertempuran melawan keinginan nafsu lebih dahsyat dibanding dengan pertempuran di Badar. Badar adalah medan perang yang musuhnya jelas kelihatan dan mudah mendeteksinya, sementara nafsu yang ada pada diri seseorang tidak nampak. 

Jika kita kaji secara  mendalam,  maka momentum  lebaran tidak  sekadar  memicu  kegembiraan  pasca  Ramadhan kegembiraan berbuka seteklah sebulan berpuasa “farhatun ‘inda al-ifthar”,  tapi juga  menggambarkan bagaimana  manusia  menemukan kembali hakikat jati dirinya, sehingga kondisi ini melahirkan gairah spritualitas yang murni sebagaimana manusia saat pertama dilahirkan (fithrah). Tentu saja kegembiraan dan kesenangan lahir batin ini akan semakin membekas dan bermakna ketika  lebaran  dirayakan secara bersama dengan orang-orang terdekat di kampung halaman tempat asal kelahirannya. 

Ada suatu hal yang perlu diperhatikan para pemudik lebaran, apakah ia mudik lebaran dalam kondisi puasa atau dalam kondisi tidak  puasa. Bagi  pemudik lebaran yang tujuan pulangnya baik seperti untuk bersilaturahmi dengan  keluarga,  sanak family dan lain-lain. Ini sesuatu yang sangat mulia seperti hadits Nabi saw: 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسِطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah saw  bersabda: Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan”. (HR. Bukhari-Muslim).

Jika seorang  pemudik  dengan tujuan ini dan dalam kondisi fisik  tidak kuat dan kelelahan dalam perjalanan, Islam memberikan ketentuan dua pilihan, pilihan pertama dibolehkan berbuka puasa dan pilihan kedua boleh berpuasa dan ini lebih baik bagi pemudik (QS. Al Baqarah: 184) Para ulama telah sepakat dalam menentukan  jarak  yang dibolehkan berbuka puasa adalah 80 kilometer. Jarak 80 kilometer pada zaman Rasulullah saw  suatu perjalanan yang sangat melelahkan karena di zaman itu kendaraan yang layak adalah unta. Saat ini jarak tersebut dapat ditempuh dalam hitungan menit. 

Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Fatwa Kontemporer  bahwa semua ulama sepekat membolehkan seseorang untuk berbuka dalam jarak 80 kilometer. Sebab menurut sebagian besar mazhab, jarak perjalanan yang membolehkan seseorang mengqashar shalat 84 kilometer dan berbuka puasa adalah 80 kilometer, selisih jaraknya antara keduanya tidak terlalu jauh. Pada dasarnya jika dibolehkan mengqashar shalat, maka dibolehkan berbuka puasa, inilah yang ditetapkan Al Qur’an  dan sunnah bahwa  seseorang boleh memilih antara berbuka puasa atau tidak berbuka. 

Ada persayaratan tertentu diperbolehkan berbuka dalam perjalanan, yaitu jika telah mencapai jarak tertentu seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dan perjalanan bukan dalam rangka melakukan kemaksiatan (menurut mayoritas ulama) serta  tidak dimaksudkan sebagai kesempatan berbuka.  Kerinduan terhadap kampung halaman dan asal-muasal lewat tradisi mudik dijadikan symbol dalam  bentuk kerinduan dan kebutuhan  spiritualitas manusia akan Tuhan  dan potensi kebenaran yang inheren dalam setiap diri manusia. Mudik dalam konteks inilah yang sesungguhnya dikehendaki Islam  sebagai  salah satu  manifestasi  pelatihan spiritual yang telah dijalani selama bulan Ramadhan. 

Jika semua menyadari  hakikat mudik  dalam  konteks tersebut, maka energi   yang kita keluarkan untuk sekadar berlebaran dengan sanak famili di kampung halaman nun jauh disana, tentu akan dengan mudah kita keluarkan untuk meraih kembali ke fitrah masing-masing. Tentu kita  optimistis, ketika  semua orang  eksodus melakukan mudik pada fitrah kesucian, kemurnian   spiritualitas, Insya Allah perbuatan dan tindakan yang dapat merugikan orang lain tidak akan terjadi lagi  di atas bumi ini. Semuanya berubah dan menjelma dalam tatanan masyarakat yang berkeadilan dalam kecukupan dan sejahtera dalam kedamaian. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s