Kultum: Indahnya Puasa Ramadhan

“Hai orang-orang yang berima, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah (2): 183).

             Seperti ditegaskan al-Qur’an (at-Taubah (9): 36), satu tahun itu terdiri atas 12 bulan. Empat bulannya, oleh al-Qur’an dinyatakan sebagai bulan yang dihormati (arba’atun hurum), yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ramadhan tidak termasuk bulan-bulan yang dihormati itu, tetapi Ramadhan memiliki kebesaran tersendiri.
             Ada sejumlah alasan mengapa Ramadhan lebih populer dibanding bulan-bulan yang lain, termasuk empat bulan yang dihormati sekalipun. Di antaranya, Ramadhan satu-satunya bulan yang secara eksplisit disebutkan dalam al-Qur’an (al-Baqarah (2): 185). Ciri lain terletak pada banyaknya gelar atau julukan yang disematkannya, seperti bulan rahmat (syahr ar-rahmah), bulan ampunan (syahr al-maghfirah), bulan berkah (syahr al-barkah), bulan taubat (syahr at-taubah), juga penghulu bulan (sayyid as-syuhur). Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah ini juga mendapat julukan sebagai bulan ibadah.
            Dalam bulan ini terdapat sejumlah ibadah yang tidak ada pada bulan-bulan lain, sementara ibadah-ibadah pada bulan lain tetap eksis di dalam bulan Ramadhan. Contoh ibadah di bulan-bulan lain dan tetap eksis pada bulan Ramadhan ialah penegakan shalat lima waktu, penunaian zakat, infak, dan sedekah, dan lain-lain. Sementara contoh ibadah di bulan Ramadhan tetapi tidak pada bulan-bulan yang lain ialah zakat fitrah, shalat tarawih, dan terutama ibadah puasa. Puasa (as-shiyam/as-shaum) secara harfiah artinya menahan; menahan diri dari makan, minum, dan lain-lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Dari aspek teologi, orang yang dibebani puasa Ramadhan hanya orang-orang beriman.
            Dari aspek sejarah, sebagaimana tersurat dalam ayat, “kama kutiba ‘alal-ladzina min qablikum,” menunjukkan arti bahwa puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada umat nabi Muhammad SAW itu jauh sebelumnya juga telah disyariatkan kepada umat masing-masing nabi Allah yang terdahulu. Dari segi target/sasaran yang hendak dituju, ibadah puasa Ramadhan bertujuan untuk mengantarkan sha’imin dan sha’imat berproses menjadi orang-orang yang takwa (muttaqin). Setiap orang yang berpuasa (sha’imin dan sha’imat) dipastikan merasakan indahnya hari-hari di bulan Ramadhan. Demikian pula dengan suasana malam hari dan bahkan pada detik-detik tertentu di bulan Ramadhan yang memiliki nilai dan makna khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Sungguh benar sabda Rasul Allah yang menyatakan, “Ada dua kebahagiaan bagi orang puasa yang (kebahagiaan itu) tidak mungkin dirasakan oleh orang yang tidak puasa, yakni: ketika berbuka puasa dan ketika menghadap Tuhan-nya kelak!” Semoga kita meraih ini semua. Amin. Wal-hamdulillahi rabbil `alamin.

4 thoughts on “Kultum: Indahnya Puasa Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s